Social engineering adalah seni atau trik yang dilakukan untuk meyakinkan orang untuk memberikan atau mengungkapkan informasi rahasia. Hal ini bisa dilakukan secara langsung atau mengunakan perantara media online. Trik ini perlu kita waspadai. Karena bisa membahayakan diri kita dan keluarga yang ada dirumah. Tanpa kita sadar pernah menjumpai trik seperti ini. Kita pernah mendapatkan sms atau telpon yang mengaku sebagai anggota keluarga sedang membutuhkan bantuan pulsa atau transferan uang, baik sedang sakit atau yang lainya. Apapun akan dilakukan, dengan berakting bak seorang artis dengan manangis-nangis. Sisi kemanuasiaan terlemah kita dimanfaatkan. Dengan komunikasi yang serba mudah saat ini tentu teknik ini akan mudah dilakukan.

Waktu kita kecil atau kita memberikan nasihat kepada anak kita, “nanti kalau diajak orang yang tidak dikenal jangan mau !”. waktu dulu. Kita iyakan untuk menolak karena kita tau wajah asing dan bukan anggota keluarga. Kalau Sekarang, iya zaman sekarang ?, kita sebagai oran tua tentu sangat khwatir, apa lagi anak kita sudah mempunyai perangkat handphone yang dibawa kemana-mana. Tidak serta merta tanpa strategi seorang tindak penjahat krimal siber melancarkan aksinya, mereka akan melakukan rekon atau mengumpulkan informasi terhadap target korban. Pelaku kejahatan akan mencari informasi, nomor telpon, alamat sosial medianya, nama sekolah, alamat rumah, nama ayah, nama ibu dan lainya. Informasi-informasi ini tentu didapatkan dengan mudah. Orang tidak sadar memberikan informasi detail yaitu melaluideskripsi profie social media, misalnya pada facebook yang telah kita isi dengan sadar. Lengkap sekali. Orang mengira facebook adalah catatan pribadi untuk mengisi segala indentitas. Penculikan anak bisa berawal dari sini. Orang dengan alibi anggota keluarga menelepon anak kita (yang sedang tidak dirumah) bahwa orang tua tidak bisa menjemput dan akan dijemput oleh suruhan orang tuanya. Sipelaku sudah membuntuti jejak digital dari orang tua bahwa sedang tidak berada di rumah atau sedang tidak berada dekat dengan anak kita. Jika trik pelaku ini tidak berhasil, pelaku akan berpura-pura berteman di social media lalu menjadi teman akrab. Apa kita bisa mengontrol, siapa saja yang sudah memiliki nomor handphone kita ?, “sulit, tentunya”.

Pernah ditelpon dari orang yang mengaku dari Bank, Gojek, Shopee atau lainnya ?, bahwa kita mendapatkan hadiah yang luar biasa jumlahnya. Mereka akan menanyakan informasi pribadi kita, atau ujung-ujungnya kita diminta memberikan informasi password atau pin atau kode verfikasi untuk masuk akun layanan tersebut. Whatsapp kita bisa dibajak inilah trik yang dilakukan pelaku. Siapapun bisa melakukan tidak kriminal pembajakan whatsapp bahkan anggota keluarga sendiri. Kuncinya satu, yaitu mengetahui nomor whatsapp kita. Lalu mereka akan mengumpulkan informasi (mendapatkan kode verfikasi) dengan cara mereka.

Alangkah baiknya, kita menyampaikan edukasi terhadap anak-anak kita dan anggota keluarga kita, betapa pentingnya menjaga privasi. Nomor Handphonepun sudah menjadi privasi.

Seperti kata pepatah orang tua kita, mencegah sakit lebih utama daripada mengobati. Tidak jauh berbeda, mencegah tindak kriminal siber lebih utama.

Singkatnya sahabat,

  1. Jangan menyerahkan atau membagikan informasi pribadi Anda
  2. Waspada pada nomor telpon atau emaail yang tidak dikenal
  3. Kita perlu mengetahui kegiatan online atau teman-teman online dari anak-anak kita

Semoga bermanfaat.